Rambu-Rambu Sirrotolmustaqim
Senin, November 17, 2008Posted by
Insan Robbani
0 Comments
Yang kami maksud dengan rambu-rambu sirotul mustaqim di sini adalah beberapa prinsip yang kalau dijadikan pegangan niscaya seseorang tidak akan sesat. Keempat rambu ini adalah uraian dari dua pilar utama yang Rosululloh saw sebutkan di hadits-hadits beliau yaitu “kitabullah dan sunnah beliau saw”
A. Tauhidulloh (Mengesakan Alloh swt).
Tauhid adalah mengesakan Alloh swt dalam rububiyah-Nya, yaitu dalam perbuatan-perbuatan ketuhanan-Nya, mengesa-kan dan memuliakan nama-nama dan sifat-sifat Nya serta mengesakan Alloh swt sebagai satu-satunya Ilah (sembahan) yang haq.
Lawan Tauhid adalah Syirik. Yaitu menyekutukan Alloh swt dalam rububiyah-Nya atau dalam nama-nama dan sifat-sifatnyaserta hak-hak ke-Illahan-Nya, atau menyekutukan pada salah satu atau sebagiannya.
Mencampurkan Tauhid dengan kesyirikan adalah kesesatan terbesar yang mengekalkan seseorang di neraka Jahannam. (Na’udzubillahi mindzalik).
Firman Allah swt:
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh, maka pasti Alloh swt mengharamkan atasnya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang Zdolim itu seorang penolong pun” (QS. Al Ma’idah:72)
B. Ittiba’.
Ittiba’ berarti “pengikutan”. Ittiba’ yang dimaksud sebagai dasar agama Islam adalah pengikutan kepada Rosululloh saw dalam memahami Islam dan menerapkannya. Karena Rosululloh saw sendiri semata-mata mengikuti wahyu Ilahi, maka pada hakikatnya ittiba’ adalah mengikuti wahyu dari Alloh swt.
Penyelisihan rambu ini akan menghantarkan kepada amal-amal bid’ah yang menyengsarakan pelakunya di dunia dan akhirat.
Firman Allah swt:
“Katakanlah: ” Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Alloh akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QSAli ‘Imran)
“Sesungguhnya kamu(wahai Rosululloh) salah seorang dari rosul-rosul (Yang berada) di atas Sirotulmustaqim (Jalan yang lurus)” (QS. Yasin : 3-4)
C. Sumber yang Benar dalam Hukum dan Pemahaman.
Salah satu rambu sirotul mustaqim yang sangat penting adalah menimba pemahaman Islam atau hidayah dari sumber yang benar. Satu-satunya sumber yang mutlak benar dalam Islam adalah wahyu Alloh swt yang berbentuk al-Qur’an dan Hadits. Ketika seseorang menimba Islam dari sumber yang salah, maka otomatis dia akan tersesat.
Firman Alloh swt:
“Dan tikaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak bagi perempuan yang mukminah, apabla Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) dalam urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya, maka sungguh-lah dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata” (QS. Al Ahzab:36)
Rosululloh saw bersabda:
“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberikan Al Kitab (Al Qur’an) dan wahyu yang semisal dengannya (Al Hadits).” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
D. Metode Pemahaman yang Benar.
Ahlus sunnah berpegang teguh kepada pemahaman dan metode pemahaman para sahabat, karena mereka adalah generasi yang telah mendapat “serfitikat kebenaran” dari Alloh swt melalui banyak ayat-ayat al-Qur’an. Demikian pula jika mereka telah berijma’ terhadap suatu masalah, maka ijma’ mereka adalah suatu yang wajib diikuti dan tidak boleh memilih pilihan lain selain pilihan mereka.
Selain memberikan “sertifikat kebenaran” tersebut, Alloh pun telah mengancam orang-orang yang menyelisihi mereka.
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Alloh.” [QS. Ali ‘Imron (3): 110]
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
“Sesungguhnya Alloh telah rido terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Alloh mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” [QS. al-Fath (48): 18]
فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah men-dapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguh-nya mereka berada dalam penentangan (kesesatan). Maka Alloh akan menangani mereka. Dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. al-Baqoroh (2): 137]
Penyelisihan rambu ini telah meyesatkan banyak golongan, terutama Syi’ah yang dengan kedustaan-kedustaan tersusun rapih dan susunan-susunan penafsiran sesat berusaha keras untuk merobohkan rambu terakhir ini.
Dalam usaha mereka untuk merobohkan rambu ini, Syi’ah telah menjalankan dua strategi busuk dan beracun:
Pertama
Memburuk-burukan dan meragu-ragukan keabsahan kedudukan para sahabat dengan cerita-cerita dusta atau hadits-hadits shohih yang diarahkan pengertiannya ke arah yang salah atau logika yang pada pandangan awal tampak benar dan kuat, tetapi ketika dibahas secara akal sehat dan dalil-dalil yang benar, akan tampak kelemahannya yang sangat jelas.
Semua syubhat-syubhat mereka dalam hal ini telah terjawab secara gamblang oleh ulama Ahlus Sunnah.
Kedua
Mengajukan ahlulbait sebagai standar pengikutan untuk menggantikan peranan para sahabat dalam hal ini. Kemudian menentukan (seenak mereka) siapa yang ahlulbait dan siapa yang bukan ahlulbait. Setelah mengharuskan pengikutan kepada ahlulbait, merekapun mulai mengajukan “hadits-hadits” ahlulbait, yang kebanyakan adalah ciptaan mereka (syi’ah) sendiri.
Mereka mengklaim kecintaan kepada ahlulbait, padahal nenek moyang yang mereka agungkan adalah musuh-musuh ahlulbait.
Di dalam manhaj Islam yang murni, manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kita sangat memuliakan ahlulbait, mencintai dan menghormati mereka lebih dari kaum muslimin lainnya, tanpa merusak timbangan keadilan. Akan tetapi harus kita ingat bahwa “pemuliaan” dan “pengikutan” adalah dua hal yang berbeda. Sebagai contoh, bisa kita lihat pada pemuliaan kita terhadap orang tua kita sendiri dan pengikutan kita terhadap petunjuk-petunjuk para ulama.
Semuanya, baik pemuliaan atau pengikutan harus ditunduk-kan pada petunjuk wahyu bukan kepada “perasaan” atau “logika akal” yang tidak terbimbing oleh wahyu Ilahi. Faktor keturunan tidak pernah menjadi legitimasi pengikutan di dalam Islam, sejak nabi Adam as sampai Nabi Muham-mad saw.
Syubhat-syubhat syi’ah dalam hal inipun sudah terjawabkan dengan sangat memuaskan oleh ahlus sunnah wal jama’ah.
dikutip dari buku "Sirotolmustaqim"
Label:
Aqidah
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

