Ittiba’
Senin, Desember 08, 2008Posted by
Insan Robbani
0 Comments
Ittiba’ berarti “pengikutan”. Ittiba’ yang dimaksud sebagai dasar agama Islam adalah pengikutan ke-pada Rosululloh Salallahu Alaihi Wasalam dalam memahami Islam dan menerapkannya. Karena Rosululloh Salallahu Alaihi Wasalam sendiri hanya komitmen terhadap pengikutan kepada wahyu Ilahi, maka pada hakikatnya ittiba’ adalah mengikuti wahyu dari Alloh Subhanahu Wataala.
2. Ittiba’ pengawal kemurnian.
Tidak akan mungkin kita dapat menjaga kemurnian Islam kecuali dengan tetap konsisten (sangat tegas) kepada ittiba’. Meninggalkan ittiba' secara keseluru-han, berarti keluar dari Islam. Sedangkan meninggal-kan sebagian dasar ittiba’, berarti masuk ke dalam lingkaran bid’ah, bahkan bisa mengeluarkan seseo-rang dari Islam.
Pemahaman dan pelaksanaan tauhid sendiri harus di-kawal ketat dengan ittiba’. Jika tidak, pasti melahirkan pemahaman dan pelaksanaan yang salah, yang bisa sampai kepada kesyirikan atau paling sedikit akan me-nyampaikan kepada bid’ah. Yang dimaksud dengan pengawalan ittiba’ adalah bahwa pemahaman dan pelaksanaan tauhid dan agama Islam secara keselu-ruhan, harus mengikuti jalan Rosululloh Salallahu Alaihi Wasalam.
Mari kita simak contoh bahaya tidak adanya penga-walan tersebut yang terjadi pada awal zaman, yaitu sejak Nabi Adam Alaihi Salam diturunkan ke bumi sampai sepuluh generasi setelahnya, dimana umat manusia hanya ber-ibadah kepada Alloh Subhanahu Wataala. di atas tauhid. Di ujung zaman tersebut ada beberapa pemimpin dan pemuka agama yang nama-nama mereka adalah Wadd, Suwa’, Yaguts, Ya’uq dan Nasr.
Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan ke dalam hati pengikut dan pecinta mereka agar membuat patung-patung mereka dan patung-patung tersebut masing-masing diberi nama dengan nama-nama mereka. Lalu setiap patung ditempatkan di setiap tempat dimana masing-masing ulama tersebutmemberikan pelajaran-pelajaran mereka, dengan alasan agar ketika melihat patung-patung tersebut, maka para pengikut mereka akan ingat kepada ajaran-ajaran mereka.
Setelah generasi para pembuat patung tersebut me-ninggal dunia, kemudian setan membisikkan kepada keturunan mereka bahwa sebenarnya bapak-bapak mereka berdoa dan meminta kepada patung-patung tersebut. Maka mulailah kaum Nuh Alaihi Salam menyembah patung-patung dan mulailah kesyirikan pertama di dunia.
Ketidakadaan pengawalan pada kejadian ini adalah terjadinya pembuatan patung-patung sebagai alat pengingat yang merupakan bid’ah, keluar dari sunnah para nabi dan terjadilah malapetaka tersebut.
Mari kita simak kedudukan ittiba’ dalam Islam me-lalui hal berikut:
a. Rosululloh Salallahu Alaihi Wasalam mengikuti wahyu dan tidak sekali-kali memasukkan ke dalam Islam suatu ajaran yang berasal dari produk diri beliau sendiri.
وَاتَّبِعْ مَا يُوحَى إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
“Dan ikutilah apa yang diwahyukan Rabb-mu kepadamu. Sesungguhnya Alloh adalah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” [QS. al-Ahzab (33): 2]
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” [QS. an-Najm (53): 3-4]
وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الأقَاوِيلِ
“Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sesuatu perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami hantam dia dengan tangan kanan. Kemu-dian Kami putuskan urat tali jantungnya.” [QS. al-Haqqoh (69): 44-46]
b. Rosululloh Salallahu Alaihi Wasalam mengikuti jalan para nabi sebe-lumnya.
ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muham-mad): ’Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Robb.” [QS. an-Nahl (16): 123]
c. Kita diperintahkan untuk ittiba’.
اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ
“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Robb kalian dan janganlah kalian mengi-kuti wali-wali selain-Nya. Amat sedikitlah kalian mengambil pelajaran (daripadanya).” [QS. al-A’rof (7): 3]
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Katakanlah: ’Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Alloh kepada kalian semua, yaitu Alloh yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Robb (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kalian kepada Alloh dan Rosul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Alloh dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kalian mendapat petunjuk.” [QS. al-A’rof (7): 158]
Label:
Aqidah
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

